Nias Selatan – Potensi komoditas Kapulaga di Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Barat, kian mendapat perhatian luas. Sebagai salah satu rempah bernilai tinggi di pasar internasional, Kapulaga dari wilayah ini memiliki aroma khas, kualitas biji unggul, dan kandungan minyak atsiri yang tinggi, sehingga mampu bersaing dengan produk dari negara penghasil lain.
Pemerintah daerah bersama kelompok petani di 11 desa Kecamatan Gomo kini tengah mengembangkan program terintegrasi untuk mendorong Kapulaga menjadi produk unggulan ekspor. Melalui platform Web DEKOGO berbasis Android, para petani tidak hanya diberdayakan untuk meningkatkan kualitas produksi, tetapi juga dibekali kemampuan mengelola merek, mengemas produk secara premium, hingga memasarkannya secara digital.
“Kapulaga Gomo punya karakteristik yang unik. Aromanya kuat, bijinya besar, dan kadar minyaknya tinggi. Ini keunggulan yang harus kita angkat sebagai identitas produk,” ujar salah satu koordinator petani, Sabtu (9/8/2025).
Program ini memuat serangkaian pelatihan, mulai dari prosedur sertifikasi dan standarisasi ekspor, pembuatan kemasan premium berstandar internasional, hingga strategi pemasaran digital. Petani juga diajarkan cara membuat Brand Kapulaga Gomo yang siap dipromosikan ke pasar global.
Salah satu fokus utama adalah kemasan premium. Selama ini, Kapulaga dari daerah pedesaan sering dijual curah tanpa kemasan menarik, sehingga nilai jualnya rendah. Dengan desain kemasan modern, informasi label yang jelas, dan material yang sesuai standar internasional, harga jual Kapulaga diproyeksikan meningkat signifikan.
Tidak hanya itu, melalui Web DEKOGO yang terintegrasi dengan aplikasi Android, setiap petani dapat memasarkan produk langsung ke pembeli dalam dan luar negeri. Marketplace ini dilengkapi dengan katalog produk, sistem pembayaran online, pelacakan pengiriman, serta fitur promosi untuk memperluas jangkauan pasar.
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Nias Barat mengungkapkan bahwa inisiatif ini diharapkan mampu membuka peluang ekspor yang lebih luas. “Pasar Timur Tengah, India, dan Eropa sangat membutuhkan Kapulaga berkualitas. Jika kita bisa memenuhi standar mereka, Kapulaga Gomo akan punya tempat istimewa di pasar dunia,” katanya.
Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan, permintaan Kapulaga dunia terus meningkat setiap tahun. Harga di pasar ekspor bahkan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dari harga lokal, terutama untuk produk yang sudah dikemas dan memiliki sertifikat mutu.
Bagi masyarakat Gomo, program ini tidak hanya sekadar peluang bisnis, tetapi juga bentuk ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi desa. Dengan manajemen yang baik, keuntungan dari penjualan Kapulaga dapat digunakan untuk mengembangkan infrastruktur desa, pendidikan, serta kesejahteraan petani.
“Selama ini kami hanya menjual ke tengkulak dengan harga rendah. Sekarang kami belajar membuat kemasan, memasarkan secara online, dan punya merek sendiri. Harapannya, pendapatan kami bisa meningkat,” ujar salah satu petani muda.
Jika semua rencana berjalan sesuai target, Kapulaga dari Nias Barat diharapkan dapat melakukan pengiriman perdana untuk pasar ekspor pada tahun depan. Ke depan, Kapulaga Gomo bukan hanya menjadi kebanggaan Nias Barat, tetapi juga ikon rempah Indonesia di kancah internasional.